Kamis, 27 Oktober 2011

Akhlak Tasawuf

Perkembangan Tasawuf Pada Abad Ketujuh Hijriah

Ada beberapa ulama tasawuf yang berpengaruh pada abad ini, antara lain sebagai berikut:

1. Uzar Ibnu Faridh

Ia lahir di hormat (Syiria) tahun 576 H / 1181 M dan wafat di Mesir tahun 632 H/1233 M. Unzar merupakan pelanjut dari ajaran Wihdayul Wujud yang telah diajarkan oleh Muyyidin Ibnu Araby pada abad yang lampau. Dalam kitap yang dikarangkanya, yang terdiri dari gubaha-gubahan syair yang berjudul Ath-Thaiyatul kubra terdapat kesamaan tekanan uraianya dengan kitab karangan Ibnu araby yang berjudul Ath-Thaiyatul Kubra.Ia menguraikan bahwa cintalah yang membakar jiwanya sehingga selalu ingin ittishal (berhubungan) dan ittihad (bersatu) dengan Tuhanya untuk mencapai tujuanya dalam tasawuf.

2. Ibnu Sabi’in

Ia lahir di marcial (Spanyol) tahun 613 H/1215 M dan wafat di Mekah pada tahun 667 H/1215 M. Semula ia dikenal sebagai ulama fiqh, tetapi kemudian ia mengalikan perhatiannya untuk memperdalam ilm tasawuf sampai ia berhasil menduduki posisi imam (syekh tasawuf) pada masa itu. Ia sering mengeluarkan pemikiran yang terlalu bebas dan dianggap ganjil oleh ulama syariat. Pemikiran-pemikiran yang telah dikemukakan oleh Ibnu Sabi’in antara lain:

  1. Mengapa Muhammad bin abdillah mempersempit alam yang luas ini dengan mengatakan bahwa tidak ada lagi nabi sesudahnya?
  2. Orang – oarang yang bertawaf di sekililing Kabah seperti keledai yang berputar - putar mengelilingi kilangan.

Karena ajaran tasawuf yang menyimpang dari kemurniannya, beberapa ulama syariat menentangnya agar tidak tersebar luas di masyarakat. Bahkan, dikabarkan bahwa tuduhan Ibnu Sabi’in sebagai orangyang sangat membahayakan agama Islam, tersebar dimana – mana. Akhirnya, Ibnu Sabi’in bunuh diri karena tidak dapat menghindarkan dan membela dirinya dari tuduhan dan penghinaan yang menimpanya.

3. Jalaluddin Ar- Rumi

Ia lahir dikota balkh tahun 604 H / 1217 M dan wafat tahun 672 H / 1273 M. pandangan tasawufnya berbeda dengan kebanyakan ahli tasawuf yang lain,terutama yang bermadhab Jabariyah. Dalam masalah ikhtiar, jalaluddin Ar- Rumy mengatakan bahwa manusia di lahirkan di dunia untuk berjuang dan bekerja keras dalam mencari kebahagiaan hidup. Kalau ahli tasawuf yang lain di pengaruhi oleh teologi jabiriah, jalaluddin Ar- Rumy di pengaruhi oleh teologi Mu’tazilah dan teori evolusi dan didapatkan dari filsafat.

Untuk menyebarluaskan paham tasawuf dari masing – masing pengaruhnya,berdirilah lembaga pendidikan tasawuf yang ditempati oleh murid – murid yang belajar tasawuf dan latihan rohaniah. Kegiatan itu dinamakan tarekat oleh penganutnya, dan sering di nisbatkan kepada syekhnya ( gurunya ).

Adapun tarekat yang berdiri pada abad ini, anatara lain :

  1. Tarekat maulawiyah, yang dinisbatkan kepada maulana jalaluddin Ar-Rumy ( W. 672 H / 1273 M )
  2. Tarekat syadziliyah, yang dinisbatkan kepada Asy- Syekh Abul Hasan Ali bin Abdil jabbar Asy- Yadzily ( W.655 H / 1256 M )
  3. Tarekat badawiyah, yang di nisbatkan kepada Asy- Syekh Ahmad Albadawi ( W. 675 H / 1277 M )
  4. Tarekat As- suhrawardi ( W. 638 H / 1240 M )

Abad ini tercatat dalam sejarah sebagai abad menurunnya gairah masyarakat Islam untuk mempelajari tasawu. Hal ini terjadi karena berbagai factor berikut :

  1. semakin gencarnya serangan ulama syariat memerangi ahli tasawuf, yang diiringi dengan serangan golonga syi’Ah yang menekuni ilmu kalam dan ilmu fiqh.
  2. Adanya tekad penguasa ( pemerintah ) pada masa itu untuk melenyapkan ajaran tasawuf di dunia islam karena di anggap sebagai sumber pemecahan umat Islam.

Kegiatan ahli tasawuf yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi sangat dikhawartikan oleh pemerintah. Untuk menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat, pemerintah menerima usul para Qadi, yang membantu pemerintah menjalankan kewenanganya, untuk menankap para ahli tasawuf. Akibatnya, banyak ahli tasawuf yang lari meninggalkan negerinya beserta para muridnya untuk mencari perlindungan di negeri lain. Akan tetapi, banyak juga yang tertangkap lalu menjalani hukuman sehingga bisa di katakan bahwa negeri arab dan Persia ketika itu sunyi dari kegiatan para ahli tasawuf.

C. Perkembangan Tasawuf Pada Abad Kedelapan Hijriah

Dengan terlampaunya abad ke-7 hijriah hingga masuk abad ke-8 hijriah, tidak terdengar lagi perkembangan dan pemikiran baru dalam tasawuf. Pada masa itu, banyak pengarang kaum sufi yang mengemukakan pemikiranya tentang ilmu tasawuf, tetapi pemikiran mereka itu mendapatkan perhatian dan sumgguh – sungguh dar umat Islam. Bahkan, bisa dikatakan Bahwa nasib pajaran tasawuf ketiak itu hamper sama dengan nasibnya pada Abad ke-7 hijriah.

Pengarang kitab tasawuf pada abad ke-8 antara lain :

  1. Al-kisany ( W. 739 H / 1321 M )
  2. Abdul Karim Al-jily; pengarang kitab Al-Insanul kamil.

Apabila ada abad ke- 5 hijriah, imam Al- Ghazali di kenal sebagai tokoh muslim yang pernah memurnikan ajaran tasawuf dari unsur-unsur filasafat pada abad ke-8 ini, Ibnu taimiyah yang berfungsi seperti Imam Al-ghazali. Upaya maksimal yang dilakukan ibnu taimiya ketika itu tiada henti-hentinya hingga ia wafat pada tahun 727 H / 132 M.

Ajaran tasawuf yang domnan ketika itu adalah ajaran tasawus ibnu arabi, antara lain pemikiran wihdatul wujud. Karena ibnu taimiya memandang bahwa ajaran tersebut banyak menyesatkan islam, ia beruapaya untuk memberantasnya melalui kegiatan mengajar dan karangan – karanganya, antara lain kitabnya yang berjudul Ar – Radu ‘ Ala Ibnu ‘ aray.


Usaha – usaha seperti ini dilanjutkan lagi oleh murid-murid Ibnu Taimiyah, antara lain Ibnul Qayyim Al- Jauzy, dan hingga abad- abad sesudahnya, selalu ada ulama yang berupaya seperti itu, bahkan hingga sekarang.

D. Perkembangan Tasawuf Pada Abad Kesembilan Dan Kesepuluh Hijriah, Serta Sesudahnya

Pada beberapa abad ini, ajaran tasawuf benar – benar “ sunyi “ di dunia Islam. Bahkan, nasibnya lebih buruk lagi dibandingkan pada abad ke enam, ketujuh, dan ke delapan hijriah.

Banyak di antara peneliti muslim yang menarik kesimpulan bahwa ada 2 faktor yang sangat menonjol, yang menyebabkan runtuhnya pengaruh ajaran tasawuf di dunia islam, yaitu :

1. Ahli tasawuf sudah kehilangan kepercayaan di kalangan masyarakat Islam sebab banyak diantara mereka sangat menyimpang dari ajaran Islam sebenarnya, misalnya tidak lagi menjalankan Shalat karena mereka sudah mencapai tingkat makrifat.

2. ketika itu penjajah bangsa eropa yang beragama nasrani sudah menguasai seluruh negeri Islam. Tetu saja, paham – paham sekulerisme dan materialisme selalu di bawa dan digunakan untuk menghancurkan ajaran tasawuf yang amat bertentangan pahamnya.

Meskipun nasib ajaran tasawuf sangat menyedihkan dalam empat abad tersebut di atas, bukan berarti ajaran tasawuf sama sekali hilang di atas bumi Islam atau hilang di telan masa. Hal ini terbukti dengan masih adanya ahli tasawuf yang memunculkan dengan mengarang kitab – kitab yang berisikan ajaran tasawuf, antara lain :

1. Abdul Wahab Asy-Sya ‘rani ( 898 – 973 H / 1493-1565 M ). Karanganya yang memuat tasawuf berjudul Al-Lathaiful minan, ( ketulusan hati ).

2. abdul Abbas ahmad bin Muhammad bin mukhtar at-tijani. Lahir di ‘ Ain mahdi tahun 1150 H / 1737 M dan wafat tahun 1230 H / 1815 M. ia merupakan pendiri tarekat tijaniyah.

3. sidi Muhammad bin ali As-Sanusy. Lahir di tursi tahun 1206 H / 1791 M. ia merupakan pendiriri tarekat sanusyah.

4. Asy- syekh Muhammad Amin Al-kurdi. Wafat tahun 1322 H / 1914 M. Ia merupakan pengarang kitab Tanwirul Qulub fimu’amalah ‘Allamil Ghuyub dan termasuk pengikut Tarekat Naqsabandiyah.

Telah menjadi kebiasaan bagi setiap golongan yang menekuni suatu ajaran ( paham ) untuk merindukan masa kejayaan yang telah di alami oleh pendahulunya bila mereka mengalami suatu kemunduran. Begitu juga, pengikut ajaran tasawuf yang sangat merindukan kejayaan tasawuf yang terjadi sekitar abad ke- 2, ke-3, dan ke-4 hijriah. Meskipun, masa kejayaan seperti itu tidak pernah dicapai lagi hingga sekarang, ajaranya tetap hidup karena merupakan suatu unsur dari ajaran islam. Hanya saja, ajaran tasawuf ini kadang – kadang disalagunakan oleh orang – orang tertentu untuk mencapai tujuanya, misalnya untuk tujuan politik, magis, dan sebagainya sehingga citra tasawuf di mata masyarakat muslim menjadi rusak akibat motif – motif tertentu tersebut. Faktor- faktor itulah yang antara lain menyebabkan nasib tasawuf mengalami kemunduran hingga sekarang namun demikian, para pengikut dari berbagai macam aliran tarekat tidak pernah berhenti untuk menyemarakkannya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar